SULUK : PENGABDIAN
kami adalah diam
batu itu itu batu diam adalah kami
……………………………… ………………………………
kami itu
adalah batu
diam diam
batu adalah
itu kami
itu
kami
batu adalah
diam diam
adalah batu
kami itu
kami adalah diam batu itu
itu batu
diam adalah kami
kami itu
adalah batu
diam diam
batu
adalah
itu
kami
itu
kami
batu adalah
diam diam
adalah batu
kami itu
……………………………… ………………………………
kami adalah diam batu itu itu batu diam adalah kami
-:
kebonsari 1993 :-
TEKA – TEKI DINI HARI
Tuhan,
ini aku
yang tengah telanjang didepan
wanitaku
Sementara diluaran
adzan subuh dan embun
mendorong flamboyan yang jatuh satu-satu
sisiri batangnya yang licin
Tuhan,
ini aku
Jika terlambat, bolehkah kuserahkan ini
adalah sembahyangku bersama wanitaku
Tuhan,
ini aku
Yang mulai basah dan malu…
-: kampus dkk di oktober, 1996
JARAK DI ANTARA KITA
Telah
benar adanya, bahwa mata itu merangkum keindahan seluruh dunia, tetapi tidaklah
berlebih jika kau dan aku bisa melihat keindahan _kebesaran yang letaknya dibalik mata.
Dan, detik ini aku menyadari bahwa dimana aku berada, aku
mempunyai seluruh ruang, dan jarak yang aku tempuh adalah seluruh panjang dunia
serta balik dunia.
Maka, berkarya adalah tugas hidup sebelum mati.
-:
talangsari 2004
MANTRA ANGIN DAN AIR TANAH
Bahlah
tum bangre bahlah tum bangre bahlah tum bang
bahlah
tum bangre bahlah tum bangre bahlah tum bang
bahlah
tum bangre bahlah tum bangre bahlah tum bang
Pohon
tua rebahlah tumbang
Rebah-rebahlah
agar
kau menjadi rumah mainan pohon-pohon kecil
bahlah
tum bangre bahlah tum bangre bahlah tum bang
bahlah
tum bangre bahlah tum bangre bahlah tum bang
bahlah
tum bangre bahlah tum bangre bahlah tum bang
Pohon
tua rebahlah tumbang
Rebah-rebahlah
agar
kau menjadi rumah mainan pohon-pohon kecil
Pohon
tua rebalah tumbang
Rebah-rebahlah
ceritakan
bagaimana
kampung-kampung dihulu sungai
berkelakar
pada tiap senggamanya demi melahirkan
aku-kau-angin-air
tanah juga umbi-umbi purba.
Pohon
tua rebahlah tumbang
Rebah-rebahlah
ceritakan
bagaimana
kampung-kampung dihulu sungai
berbagi
perbedaan musim,
bagaimana
mereka saling berkabar
bahwa
pesta musim berhimpit
dengan
duka musim yang lain.
Pohon
tua rebahlah tumbang
Rebah-rebahlah
ceritakan
bagaimana
kampung-kampung dihulu sungai
belajar
mengaji kesejatian sore hari
bahwa
kau adalah juga aku dan aku adalah juga kau
yang
bermuasal nur-ilahi,
terkadang
kita terlampau lama hanya berdebat
tentang
kemladean atau apak yang memangsa bayur,
padahal
hidup memang beribu sifat
dengan
angka-angka dalam lingkaran;
yang
berjejal-jejalan tak terhingga jumlahnya
saat
setiap kali berputar pada setiap musim bergeming.
Pohon
tua rebahlah tumbang
Rebah-rebahlah
agar
kau menjadi rumah mainan pohon-pohon kecil
rebah-rebahlah
untuk tempat kubertanya
mengapa
semakin banyak aku yang tak menjadi kamu,
lalu
dimana kini mereka bersenggama
mereka
yang selalu menyenandungkan
mantra
angin dan air tanah
bahlah
tum bangre bahlah tum bangre bahlah tum bang
bahlah
tum bangre bahlah tum bangre bahlah tum bang
bahlah
tum bangre bahlah tum bangre bahlah tum bang
Pohon
tua rebahlah tumbang
Katakan
siapakah yang menumbangi mereka ?
Mengapa
‘dia’ yang menentukan segala yang tersurat
untuk
mereka dan aku ?
Apakah
juga ‘dia’ yang telah menuntun gemuruh bah
memenggal
tarikan-tarikan napas anak-anak alam itu,
hingga
anyir kelopakku keruh
hingga
otakku memburai mimpi
menjadi
sanjak-sanjak mati kebasahan ?
Apakah
‘dia’ tak tahu
bahwa
kau sejatinya aku dan aku sejatinya kau?
Apakah
‘dia’ juga yang telah mengajak kau bersulang
lalu
menipu laba-laba untuk menyulam jaring-jaringnya
hingga
menutupi kampung-kampung hulu sungai,
tempat
dimana sebenarnya ribuan kanak-kanak belajar
menarik
napas membuang napas,
lalu
bergelayut mengeja lafal-tajwid
mantra
angin dan air tanah,
yang
itu pun juga untuk kau !
Jadi
siapakah ‘dia’ sebenarnya!
Dan
siapakah kau kini !
Hai…!
Pohon tua tumbanglah !
Kaki
basah mencari tanah
kaki
basah mencari tanah
akar
akar menadah hujan
gemuruh…!
dimana
‘dia’ sembunyikan peta tapak kampungku,
aku
akan ambil kembali
Kaki
basah mencari tanah
kaki
basah mencari tanah
akar
akar menadah hujan
gemuruh…!
dimana
‘dia’ sembunyikan rahim ibuku,
aku
akan ambil kembali
Kaki
basah mencari tanah
kaki
basah mencari tanah
akar
akar menadah hujan
gemuruh…!
dimana
‘dia’ sangsangkan tasbih ayahku
aku
akan ambil kembali
Pohon
tua rebahlah tumbang rebahlah tumbang
Rebah-rebahlah
agar kau menjadi rumah mainan pohon-pohon kecil
seperti
dulu
seperti
ibumu
seperti
ibuku
seperti
ayah kita
yang
mengajikan suluk ke dada kita
bahwa
hidup hanya sepanjang napas.
-:kemiri
2005
LELAKI & LANGIT SORE
...saat
tak lagi berulang,
tak
juga kau tak lagi tak,
-: talangsari maret 2006
EROICA
…kasih sayang, kemesraan,
dendam,
kadangkala harus berani kita
tertawakan…
-:
arongan juli 2009
DEADLOCK
--------,siang menggurah
rahim kehidupan dan harapanku
hingga
nanar
sepi sepi tak kunjung sepoi
sepoi,
kau pun menghilang tak kunjung
ah,
kembali hari
tak menemu tepi
bergegas datang,
sri sadana; menebah sawan
mengharu rupa:
“minta aku, kertas kosong,
aku mau menggambar nasi sama lauk warna –
warni”
“cepat pak, batu batu ibu
diperapian hampir matang”
ya,…
-: ambulu maret 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar