Epilog Bidadari
untuk NFK
Bidadari itu bertandang malam ini,
mengabarkan senyum berselimut mendung. Lincah tubuhnya tiba-tiba diam, di atas
ranting basah. Tak juga angin bergerak, tak juga bintang memancar. Hanya wajah
pucatnya memulihkan gelap yang merambat.
“Aku terjebak dalam permainan kinanti
melangit; meluluhkan ruang sadar, terkesima. Batas akal terdekap hangat maya
senandung, memudarkan simfoni hati mulai terjaga. Kini aku hanya diam di sini;
di atas ranting mulai patah. Aku tahu ini bukan takdir, tapi kekalahan yang
harus menikamku perlahan-lahan.”
Bidadari itu, membuka mata mulai
kering. Berat, ingin membaca rangkaian mantra yang menjerat tubuh dan akalnya.
Di antara jejaring gelombang hampa, ia mulai berhitung kesempatan.
“Tak harus meratapi kekalahan karena
aku masih punya nyawa. Tak harus merasa kalah, karena aku masih punya akal.
Bersama serpihan remuk sang hati, aku akan mematahkan ranting, memulai pagi,
menghilang dalam hidup.”
Jember, 16
November 2009.
Melampaui Batas Dua
Nagari
Selalu saja ada rindu melintasi kokoh
batas dua nagari. Sujud gunung ini, menghantar hasrat perjumpaan. Mendung
menjatuhkan air ketika pepohonan itu menahan angin. Mataku menembus pekat,
mencari sekelebat bayang menuju timur.
“Aku menunggumu bersama air terus
mengalir, menyapa beribu wajah berharap berkah. Tak perlu menghitung waktu,
karena yakin adalah keinginan, menyatu dalam darah. Tak perlu risau menderu
karena senyummu adalah kepastian yang akan menghampiriku bersama tembang wangi pepunden.”
Kelok dan gelap jalanan menggiringku
pada suaramu, semakin dekat. Gending dan suara bambu menyibak tirai
malam, mempertemukan kita di sebuah bukit. Wajahmu masih teguh menyimpan
harapan, meski beban mimpi terlalu berat untuk dihapus.
“Apa yang akan kita lakoni dalam
perjumpaan ini? Apakah sebuah percumbuan yang kita nantikan sepanjang masa?”
“Ya, percumbuan yang meluruhkan dendam,
menjelajah gemuruh batin; percumbuan yang membebaskan kita dari dalil-dalil
suci; percumbuan yang bermula pada sunyi malam dan berakhir pada bang-bang
Wetan; percumbuhan yang bermula dan berakhir pada sebuah kosong; percumbuan
yang menjelma sujud, sebuah takjub tanpa kutub.”
Gumitir-Kemiren,
Banyuwangi, 24 November 2009
Pagi: Bercerita Senyap
Ke
mana perginya harapan, bersemi bersama embun? Pada sentuhan kabut semua masih
lelap. Ruas jalan dilalui anjing-anjing penjaga setia mengendus orang-orang.
Tak lagi senyap berurai, kembali mendekap mimpi dijaga dengan senyum. Pagi ini,
matahari sudah bercerita, bukan tentang harapan, kesenyapan semakin menjadi.
Di
ujung jalan, seorang gadis membekap bisu angin terlambat datang. Menanya setiap
sisinya melingkari waktu:
“Apakah
harus kita tunda waktu, sampai hembusanmu mampu menggerakkan dedaunan? Apakah
harus bangun tembok sampai pantulanmu kembali merambati kulit dingin? Tak mesti
hari harus berawal dari cerita indah, karena angin tak lagi mampu menggerakkan
api.”
Pada
siang, gadis itu akan mengantarkan setumpuk cerita dibingkai keringat tak kuasa
berkunjung.
Jember,
13, dini-hari, Januari
2009.
Sisa Hujan: Malam Ini
Ritme air: jatuh, mengungkap senyap di
antara secuil surga di muka bumi. Surga yang mulai bercampur dendam: ketika
engkau bertutur tentang cinta, cinta yang disuguhkan pada kebahagiaan yang tak
pernah dimiliki, bahkan oleh hatimu.
Sisa hujan…malam ini: membawamu kembali
berkuasa dalam bayangan senyum yang selalu bercampur airmata terhenti. Bukan
karena sedih, tapi perjalanan yang begitu jauh dari doa. Doa untuk membangun
sebuah gubuk berkawan kabut dingin selalu setia. Wajahmu disenyapkan harapan:
bukan harapanmu, harapan mereka yang mencintaimu sebagai anak dan bidadari
pelepas lelah. Menjalani petuah yang digariskan hidup: menempuh jagat tak
pernah diinginkan. Selalu tersenyum, meski beribu matapisau mengendap di kedua
mata memandangmu.
Sisa
hujan…malam ini: melepas suara lirih dari jendela-jendela yang mulai rapat.
“Aku terlahir dari sebuah rahim, di
balik gubuk reyot. Seorang perempuan bertaruh beku, ibu bumi membuka langit.
Dari sebuah kawah perjanjian, aku ditiup angin melintas samudra pasir,
menikmati hidup dalam ayunan hijau. Sampai pada saat, mereka berdua
menjemputku, memberi dongeng: putri jelita hidup bahagia. Lena…terlena, waktu
demi waktu, tanpa beban menjalani segala kisah, tanpa sadar selalu dikendalikan
sebuah bhakti. Sebuah perjanjian suci ditorehkan dalam hitungan-hitungan balas
budi, seorang pangeran memanggilku, bersama gemerlap dihantar kereta kuda.
Mengajakku, melukis mimpi dalam hingar teramat jauh. Maka, inilah aku, seorang
pengabdi yang harus selalu melupakan jiwa, pasrah dalam pertautan yang selalu
disucikan. Merasakan hujan sebagai kehangatan, karena aku tak pernah boleh
merasa.”
Sisa hujan…malam ini: biarlah
melelapkan semua lelahmu, semua sedihmu, semua kemarahanmu. Mungkin masih
tersisa mimpi yang membawamu kepada sebuah cerita, berlari menuju padang
membentang.
Yogyakarta, 8-9 Juni
2010
Tiga
Komposisi Sepi
Kalau sepi adalah pertarungan, hujan
membekap lukisan lembab:
“Ini bukan pesan yang mesti di tulis
dalam kesunyian. Ini bukan mimpi yang harus dicari dalam tumpukan sejarah. Ini
bukan pula harapan yang harus diiris dalam kesepakatan-kesepakatan.”
Sepi telah menjadi pertarungan. Seekor
kunang mengembalikan dusta:
“Mukamu senja baru saja berlalu,
menoreh keyakinan pada kumandang raga. Aku harus terbang melintasi batas-batas
waktu, menengok sempurna mata di balik jendela. Ada bohong aku ceritakan kepada
angin, kepada wajah menunggu itu.”
Sepi memang masih berlangsung.
Sudut-sudut semesta mengutuk dendam:
“Kepastianmu adalah hina dirayakan api
dalam keraguan Bubat. Cinta itu adalah darah dipaksa kehendak, menaruh jiwa
dalam temaram jingga. Tak usah berpikir lelah, mereka akan memaksamu dalam kesucian
melayang.”
Sepi, memang kenyataan harus dirayakan:
dengan cinta yang terlanjur anyir.
Yogyakarta, 18 Pebruari
2008.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar