Elly Suryana



Saat bulan mengatup

sayang,ingat kita saat bulan mengatup?
Kita saling meraba rindu di bawah angin yg berdesis
kita slalu bercerita tentang bidadari hati yg tak lelah menghantui
lalu kita berlari mencari mimpi.
sayang, ingat kita saat bulan mengatup? Kita terjirat kata yg menikam
kita abai di tangan mereka dan terbuang
namun rindu kita mampu berjalan di atas santun kita.
sayang,bulan kini sudah berpendar tak ttersaput awan
biarlah tangan kita saling memuja
melihat bulan yg mengambang di mata kita tanpa mengerjap
menjaga rindu kita tetap abadi.




Hujan

hujan...rintikmu membias pada bulir padi yg mulai merunduk
sedari siang tak lelah kau menyirami
layaknya pundak yg terbiasa mendamba dahi menempel atau serabut2 masam yang bercerita tentang sedihnya terhianati.
Hujan..anginpun tak membuat kata terhenti
layaknya hati yang sudah beku oleh pesonamu
tiada yang istimewa,hanya pesonamu yg mampu membuat rasaku begitu
pesonamu begitu tenang
membuaiku dalam manisnya imaji
imaji akan dunia yang merindukan kedamaian.
Hujan..sungguh tak seorangpun merindukanmu
begitu juga aku
telah lama aku bercerita sendiri tiada teman
telah lama aku tak menengadahkan dahiku pada pundakmu yang tak kekar namun menenangkan
telah lama aku merindukan celoteh2 gurauanmu yg membuat aku lupa akan sakitnya terhianati
Hujan..jika aku telah pergi sebelum engkau datang
siramilah aku! Seperti pertma kali kau menyiramiku
dengan air kedamaian dan celoteh yang membuatku tersenyum.


 
Rindu

rindu pada suara-suara disana
ada rindu pada canda
ada rindu pada sawah
ada rindu pada gunung
ada rindu pada nynyian gembala
ada rindu pd rumah sempit kita
ada rindu pada hidangan ala kadar kita
ada rindu pada teriakan nakal kita
ada rindu pada marah kita
ada rindu pada keluhan ibu-ibu tentang suami dan anaknya
semua tentang rindu
rinduku,rindumu,rindu mereka, dan rindu orang-orang


 

Memoir

malam baru saja terlepas dri pelukan sang mentari
suara serangga bersahut-sahutan mewarnai malam yang dingin
saling bersenggama dan bercerita tentang cinta
adakah segumpal kasih yang menebal di hati kita seperti mereka?


 
Kekasihku sudah pergi

awan mengambang dibalik pintu langit mencari kata yang sudah lelah
kulihat engkau duduk di sana dengan senyum yg mash menguncup
ada tanya tersangkut lalu hilang seperti habis ditelan angin
kemanakah kekasihku pergi?
kemairn baru saja kita belajar tentang hidup dan cara mengail naifnya rindu
rindu yg pucat karena sukar memahami
rindu yg beku karena saling curiga
engkau hilang saat rindu kita mulai mengerti
membiarkannya mengapung lalu tenggelam
puingnya tersesat di dadaku dan meronta mencari jalan pulang
kemanakh kekasihku pergi?
bintang sudah lelah bercerita tentang pertemuan kita
jauh di atas gerbang langit kudisiram cahaya yang berpendar
kulihat kau di sana dgn air mata yg sayu lalu menggenang
makin lama makin pudar semakin jauh lalu kabur
hening yg mulai roboh menyudutkanku
aku menunduk dan terus mengais isakan yang abadi
cintaku belum genap namun kekasihku sudah pergi.




Dia

aku melihatnya dibalik tirai sutra penutup jendela
indah membuat hatiku meradang
katakan padaku bagaimana meloloskan rindu
yang makin lama makin rebah dan terhimpit perasaan yg mengambang?
Biarkan aku abadi dsini menunggu kapan kau memetikku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar