Senandung Lalat
Aku sedang bingung
saudara,
Temanku meminta aku
menulis puisi
Padahal aku tak pernah
pula membaca
Temanku memintaku menulis
puisi?!
Oh, iya…
Ia bilang aku boleh
menggombal sedikit
Seperti ketika kau sedang
jatuh hati
Berkata yang indah-indah
tentang rindu
Menulis merdunya
gemericik air di sungai
Atau hangatnya mentari
pagi
Tapi, aku sedang
kehabisan kata
Kemana sih kata-kata
indah itu?
Ah, jangan-jangan mereka
sedang bercanda
dengan para tikus
yang sedang ngelamuti sepatuku
yang sedikit bau kaki
Ah, andai saja ada satu
kata yang mampu kutulis
Ketika tangan dan mataku
tertuju pada laptop
Pasti sudah kubuat roman
Yang bercerita tentang
rindu-rindu bulan dan matahari
Atau rindu gunung dan
lautan
Bukannya hanya menatap
kosong lalat yang hinggap di cangkir kopi
Aku bertambah bingung
saudara
Temanku memintaku menulis
puisi
Mengenai kisah pandawa,
yang haus dan serakah hingga menggadaikan drupadi
Atau sakitnya cinta Rama
dan Sinta, yang harus mati bunuh diri
Buntu kepalaku…
Sedari tadi huruf-huruf
selalu saja luruh
Dan membuatku membaca
larik-larik kosong
Sedang ia,
Memintaku menulis puisi?
Ada-ada saja, masa aku
diminta menulis puisi
Waktu semalam sudah
kuhabisi
Sekarang matahari sudah
mulai meninggi
Sepertinya aku juga harus
mandi
Ya, bukannya menulis puisi
Puisi tak bisa menghidupi
Meski sebatang rokok saja
tak kira bisa dibeli
Apalagi membeli mimpi
Ah, ngomong saja kau ini
Mendingan aku pergi
Ya, bukannya menulis
puisi
Tapi mandi
Ah, lebih baik aku minum kopi
24/9/2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar