Ebhi Yunus

Senandung Lalat

Aku sedang bingung saudara,
Temanku meminta aku menulis puisi
Padahal aku tak pernah pula membaca
Temanku memintaku menulis puisi?!

Oh, iya…
Ia bilang aku boleh menggombal sedikit
Seperti ketika kau sedang jatuh hati
Berkata yang indah-indah tentang rindu
Menulis merdunya gemericik air di sungai
Atau hangatnya mentari pagi
Tapi, aku sedang kehabisan kata
Kemana sih kata-kata indah itu?
Ah, jangan-jangan mereka sedang bercanda
dengan para tikus
yang sedang ngelamuti sepatuku
yang sedikit bau kaki

Ah, andai saja ada satu kata yang mampu kutulis
Ketika tangan dan mataku tertuju pada laptop
Pasti sudah kubuat roman
Yang bercerita tentang rindu-rindu bulan dan matahari
Atau rindu gunung dan lautan
Bukannya hanya menatap kosong lalat yang hinggap di cangkir kopi

Aku bertambah bingung saudara
Temanku memintaku menulis puisi
Mengenai kisah pandawa, yang haus dan serakah hingga menggadaikan drupadi
Atau sakitnya cinta Rama dan Sinta, yang harus mati bunuh diri

Buntu kepalaku…
Sedari tadi huruf-huruf selalu saja luruh
Dan membuatku membaca larik-larik kosong
Sedang ia,
Memintaku menulis puisi?

Ada-ada saja, masa aku diminta menulis puisi
Waktu semalam sudah kuhabisi
Sekarang matahari sudah mulai meninggi
Sepertinya aku juga harus mandi
Ya, bukannya menulis puisi
Puisi tak bisa menghidupi
Meski sebatang rokok saja tak kira bisa dibeli
Apalagi membeli mimpi
Ah, ngomong saja kau ini
Mendingan aku pergi
Ya, bukannya menulis puisi
Tapi mandi

 Ah, lebih baik aku minum kopi
24/9/2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar