Janabijana



KARNA DAN DROPADI

Karna:

Jika salahku karena bukan dari bangsamu
maka biarkan aku menjemput takdirku
Aku tak meratap karena tumbuh dari akar-akar pohon
atau bekas tapak kuda dan kereta,
tapi
biarkan aku melihatmu sesekali:
menuang indahnya rembulan,
meniup seruling kehidupan,
mencium wangi cendana,
memainkan anak rambutmu dengan mata panah,
juga menutup erat tubuhmu dengan kain ibu
Biarkan,
biar raya-rayap kecil tak pernah melihatmu telanjang
serta terbenam luka karena keserakahan dan hukum alam
(aku terlanjur mencelamu)

Jika salahku karena bertuan yang tak pantas,
setidaknya aku tak bertunduk pada kebaikan semu
Siapa yang tahu,
bila jahanam sepertiku mampu menggenggam luka
juga bahagia sekaligus,
tersenyum di ujung tanduk,
berkasih menguntai suluk

Darahku yang tak disucikan adalah amarah menggelegak
pertarungan antara harga diri dan kekuatan nurani
Jika Hyang Narada saja tak mengenaliku,
--huh—
jangan kira manusia rela aku mencinta
Tubuh yang lapar ini
bongkahan dendam yang mengapur seperti batu
--jiwa yang terlupa, tidak menangis karena prahara--
Jangan harap aku menghiba
Derajadmereka menjelaga memang tampak tanpa cela,
tapi lihatlah:
Manusia-manusia di sekelilingmu itu ibarat mati
Tak berhati

Maka ulurkan hatimu, Dewi
Aku tidak nisbi
Jika tak pantas aku bicara padamu
maka matilah aku sebelum kekasihmu merampas jiwa dan raga ksatria
melemparkan aku pada tanah Kurusetra
menguarkan kepulan candu dari mulutnya
membanggakan ras dan talenta juga gelarnya
Jika arca-arca yang kau puja tak mampu menjawab
biarkan hatimu tetap hidup
untuk menyumpal milyaran mulut,
mengisi pikiran dari jiwa-jiwa kerdil,
menunggu waktu,
jutaan angka tak tentu.

Dropadi
Jika kunang-kunang datang ke peraduan
membawa kabar kematian
biarkan ia bercerita
jika matamu di sayembara itu
telah berkobar untukku


Dropadi:

Membakar seperti api dan melukai seperti pedang
Itulah dirimu dan aku
Dengan segala cinta yang kau punya dan sambutku yang kaku,
hidup menyeretku pada keharusan dan pengabaian

Jadi, apa salahku hingga kau harus membuatku malu?
Kata tak pantas bukan milik para ksatria,
tapi
ada cahaya Surya dalam hatimu:
Akal yang membawamu dari ranah dasar ke menara di ujung langit,
menyilaukan dan merenggut aku dari kematian panjang

Sayang,
takdir hanya milik yang bernama tahta dan mantra
Kau terlahir bukan untuk itu,
lalu kemarahanmu membawaku pada duniaku:
Harta dan kemewahan
tapi terinjak dalam lumpur di seberang gerbang
Menuangnya hasrat pada perjalanan panjang
--lelah tak terkatakan--
Cinta tak bertujuan

Malam selalu merindu dengan angin dari padang,
berbau darah, dendam dan kematian
Maka jika kau dan aku terlahir kembali
biarkan aku tetap menjadi api
Mengobarkan ujung panahmu
dan membakar kita dalam sepi
Banyuwangi, 15 Oktober 2014


 

MENGETUK HATI

Aku mengetuk hatimu, Tuan!
Lebih keras dari gedoran di pintumu
yang tak kau dengar itu
Aku mengetuk hatimu, Tuan!
Bukan dengan kata-kata cinta
juga air mata tanda dusta
Tapi ijinkan kuketuk hatimu, Tuan!
Lewat secangkir kopi
atau sepoci teh hangat,
hingga bisa kau hirup nafas pemetiknya
di ladang-ladang tandus
akibat kemarau panjang
dan penderitaan yang tak kunjung usai.

Janabijana dan secangkir kopi,
Banyuwangi, 5 September 2014


 

KUTULIS UNTUKMU

Kali ini bukanlah penghabisan
aku mencoba mencari celah di antara jarakmu dan aku

Hanya coba kutulis surat
yang sarat cinta
--memang sulit dingungkapkan--
dan menggambar jalan di sana
sepanjang lelahku melintasinya

Maka balaslah seperti apa kau bisa
Mungkin hanya sekata
dan goresan warna yang tak utuh
Tapi itu melengkapi hatiku
yang terbelah dan hampir runtuh

Janabijana untuk Ibrahim dan Kafka,
Banyuwangi, 2 September 2014





UNTUK PEREMPUAN-PEREMPUAN

untuk perempuan-perempuan yang menangis di serambi rumahnya
untuk perempuan-perempuan yang mengais dengan darah tiap rupiah
untuk perempuan-perempuan yang berlindung di tenda-tenda pengungsian
_merindukan pembalut kiriman dan bantuan makanan_
untuk perempuan-perempuan dalam tembok tebal kota-kota,
_yang kata kitab-kitab adalah kota suci, berperadaban tinggi, dan menambang dollar serta menyisihkan segunung devisa_
untuk perempuan-perempuan yang terpaksa aborsi
untuk perempuan-perempuan yang mencinta dengan sejenisnya
untuk perempuan-perempuan yang tak diakui jenis kelaminnya...

apa Tuhan hanya membagi surga dengan bidadari-bidadari
hanya untuk kaum Adam saja?

Banyuwangi, 17 Februari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar